Postingan

Menampilkan postingan dari Oktober, 2016

3 Alasan Utama Kenapa Harus Nge-Blog

Gambar
Saya baru tahu ternyata hari ini adalah hari blog nasional, dan nyatanya saya adalah seorang blogger--sekalipun bisa dibilang amatir. Menulis di blog memang memiliki kenikmatan tersendiri dibandingkan menulis di beberapa media sosial lainnya yang lebih populer saat ini, facebook misalnya. Namun bagi saya ada tiga alasan mengapa kita rasanya harus mencoba fasilitas blog ini.

1. Kebebasan Menulis
Kata seorang teman yang psikolog, menulis adalah media yang baik untuk terapi. Ya, rasanya blog adalah tempat yang baik untuk ini, anda tidak perlu khawatir akan di-block oleh orang lain karena 'menunpahkan jin dan taik' anda dalam bentuk tulisan--pastinya juga kalimat ini. Anda tidak terbatasi oleh karakter dan gambar. Senior saya, Yusran Darmawan, menambahkan kalau menjadi blogger anda tidak perlu penyunting yang kadang-kadang menjengkelkan atau sok tahu tentang tulisan kita.

2. Merekam jejak
Menulis di blog sebenarnya mirip menulis di diary yang konsep pengarsipannya mudah terlacak di…

Sewindu

Gambar
Datumuseng, 10 Desember 2008.

Di suatu sudut gelap lorong pusat kota Makassar, lima orang memiliki mimpi yang sedikit muluk: menjadi artis. Tidak ada yang istimewa malam itu, hanya beberapa suara bertenaga di depan microphone dengan telinga dibalut headphone. Merekam beberapa lagu-lagu sederhana dengan peralatan yang seadanya, mereka berniat mengguncang dunia musik yang dikuasai pasar tembang "menye-menye". Hari itu lagu pertama berjudul "Mentari Pagi" direkam, membuka jalan sebuah awal, tanpa bisa menebak apa di masa mendatang. Ya, mereka masih remaja, gila dan bersemangat, siap berkorban demi menggapai puncak. Memiliki koleksi album, menggelar konser, hingga dikerubuti groupies.

Zodiac Cafe, 12 Oktober 2013

Mereka sudah melalui mimpi panjang: panggung ke panggung dengan pundi-pundi. Prestasi yang cukup prestise. Tapi memang kesemuanya tidak selalu berjalan sempurna. Mereka saling menatap penuh kecurigaan dan bara yang memendam. Lima tahun lalu sudah terlupa, kedig…

Kecewa oleh Sejawat

Melanjutkan dari tulisan saya yang sebelumnya mengenai es krim, akhirnya saya memutuskan untuk memeriksakan gigi saya di klinik terdekat tempat inap. Iseng-iseng saya pun mencoba menjajaki kota Kediri.

Dengan jarak tempuh sekitar 30 menitan, sampailah saya di salah satu rumah sakit yang menyajikan pelayanan perawatan gigi. Sebenarnya dengan status saya sebagai rekan sejawat, pelayanan prima dapat diberikan. Apalagi dalam salah satu sumpah dokter terdapat pasal, "Saya akan memperlakukan teman sejawat saya sebagaimana saya sendiri ingin diperlakukan."

Tapi sumpah memang sumpah, hanya seremonial sewaktu dan hilang digulung waktu. Dari awal memang tiada niat saya untuk mengumbar identitas saya sebagai rekanan sejawat, namun perlakuan dokter tersebut bisa dibilang inhumanity. Bayangkan saja, saya didudukkan di dental unit, dengan maskernya yang terpasang dan handscoon (kaos tangan) berlapis, seakan penderita penyakit menular berbahaya yang siap mentransmisikan ke tubuhnya.

Tanpa …

(TERIMA KASIH SANG PEMBAPTIS) #Great3rdCOMPETITIONFEUNJ

Seingatku banyak cara untuk menancapkan belati ke dada. Dapat ditusuk secara acak berkali-kali, bisa juga ditancapkan dan didorong hingga nyerinya tanpa ampun.Bisa juga membelah dadanya, kuambil organnya terpisah.Jantungnya akan kumakan mentah-mentah. Nikmat.
Prosedur itu hadir tanpa diundang beriringan dengan dendam tak terbendung. Di dalam kantong celanaku bersembunyi belati.Ingin segara kusarangkan di dadanya, hingga ia menyesal menolakku.
“Selamat datang, ada yang bisa saya bantu?” sapa sopan resepsionis cantik itu. “Pak Buhary.” Ah, aku benci betul menyebut namanya, Buhary, Sang Tuhan. Sang Pembaptis, juru selamat para sastrawan wanna be.
‘Sudah janjian sebelumnya, Pak?” Aku membalas mengangguk. Kemudian si resepsionis mengarahkan ke lantai lima, kantor redaksinya.

Ode untuk Es Krim

Gambar
Ada beberapa hal yang saya banyak lupakan dari masa kecil saya, salah satunya mencicipi es krim batang. Seingat saya, setiap kali "mas" penjual es krim itu melintas di depan rumah, saya akan merengek kepada tante atau nenek saya untuk membelikan. Tanda kehadirannya adalah dari lagu yang selalu diputar dari pengeras suara di gerobaknya.

Sayangnya, saya rasanya hampir lupa kapan terakhir mencicipi manis dan dinginnya. Saya juga lupa kapan terakhir kali menyisikan uang jajan untuk itu. Terakhir kali saya mengingat membelinya saat SMP.

Lebih satu dekade, bertempat di Pare, Kediri--beratus kilometer dari kampungku, di situ saya berkesempatan mencicipi sebatang es krim.

Berwarna-warni, harga murah(hanya dua ribu rupiah), dan pastinya terik panas tanah Jayabaya ini memancing lidah yang kelu ini mencicipinya.

Tanpa pikir panjang bibir dan lidah tersentuh. Manis! Sejuk! pada jilatan pertama. Sayangnya tidak indah pada beberapa detik kemudian. Rasa ngilu datang dan menepikan ekstase…