Postingan

Sebuah Pengakuan

Seringkali penyesalan datang terlambat. Seringkali penyesalan selalu membayangi rasa bersalah. Mungkin itulah yang kini saya rasakan. Penyesalan itu bertubi-tubi datang dan membangunkan di tengah malam.

Saya bukanlah lelaki yang baik. Saya adalah seorang yang kerap kali melecehkan perempuan. Semua itu dimulai saat saya di menjelang akhir studi. Saat di mana para calon dokter tengah menikmati privilese untuk dapat magang sebagai dokter ganti, seakan gelar dokter telah tersemat seutuhnya di dirinya.

Namun nyatanya itu memberikan saya sebuah kesombongan, seakan dunia takluk di hadapanku. Saya memanfaatkan itu untuk mendekati perempuan-perempuan. Beberapa diantaranya saya manfaatkan untuk kesenangan pribadi. Tanpa tanggung jawab dan dengan mudahnya saya melepaskannya.

Kesenangan saya itu salah satunya adalah melecehkan mereka di perkataan. Tak jarang saya sering mengucapkan ajakan untuk tidur atau keinginan saya untuk memeluknya. Dari mengucapkannya saja seperti ada yang lepas dikepala, dan…

Hari-Hari Penuh Ketakutan Sang Korban Persekusi

Gambar
Subuh itu saya dikagetkan (24/9) oleh riuh gemuruh grup Whatsaap kosan saya. Isinya tak lain adalah beberapa link berita bahwa dia adalah penista agama dan ujaran laknat-laknat lainnya.
Dia adalah Andi Fadlan Irwan (26), seorang dokter, aktivis, sekaligus intelektual. Malam sebelumnya dia bertarung di Twitter bersama akun Twitter Tifatul Sembiring dan Taufiq Ismail perihal tragedi 1965. Dia menambah daftar keributan perihal itu.
Ciutan itu langsung dibalas dengan rentetan makian, juga beberapa diantaranya adalah ancaman.Tak luput juga beberapa media yang tanpa klarifikasi.
Ya, Fadlan telah menerima persekusi. Dalam hal ini saya memakai definsi Jaako Kuosmasen, yang menjelaskan tiga syarat persekusi: (1) ancaman asimetris dan sistemik; (2) bahaya berat dan berkelanjutan; dan, (3) sasaran diskriminatif dan tidak adli.[1]

Saya langsung mengobrak-abrik Twitter dan menggunakan pencarian atas namanya. Di sana saya liat ratusan akun menyerangnya dan mencecarnya. Semua diawali dari ciutannya,
Ada …

Pilihan dan Pencapaian

Gambar
Kadangkala memilih itu membingungkan. Sekalipun itulah yang kelak menentukan masa depan. Ketakutan senantiasa menyembul. Setiap pilihan adalah konsekuensi sekaligus seperti menjebloskan satu kaki ke lubang kegagalan. 

Di usia 28 tahun, Anwar belum menentukan pilihannya. Dia adalah seorang dokter tapi dia memiliki banyak perihal kesukaan. Tangannya lincah di atas tuts piano. Keterampilan itu membungkusnya dalam hasrat ingin menjadi musisi. Perihal lainnya adalah dia suka menulis. Obsesinya menjadi pengarang cukup kuat dan ambisius. 

Pagi itu, sehabis salat subuh, dia mendapat kiriman pesan dari ibunya di kampung, 

"Nak, apapun usahamu,  jangan lupa untuk membaktikan diri kepada sesama manusia."

Boro-boro berbakti kepada manusia, dia bahkan belum bisa memilih jalan seperti apa untuk mencapai ke sana. 

Dia juga bimbang akan keharusan memilih lainnya: pacarnya Nunu. Ini sudah tahun keempat dia menjalin hubungannya. Ya, seperti halnya hubungan seumuran cicilan motor itu, kepastian kep…