Postingan

Pilihan dan Pencapaian

Gambar
Kadangkala memilih itu membingungkan. Sekalipun itulah yang kelak menentukan masa depan. Ketakutan senantiasa menyembul. Setiap pilihan adalah konsekuensi sekaligus seperti menjebloskan satu kaki ke lubang kegagalan. 

Di usia 28 tahun, Anwar belum menentukan pilihannya. Dia adalah seorang dokter tapi dia memiliki banyak perihal kesukaan. Tangannya lincah di atas tuts piano. Keterampilan itu membungkusnya dalam hasrat ingin menjadi musisi. Perihal lainnya adalah dia suka menulis. Obsesinya menjadi pengarang cukup kuat dan ambisius. 

Pagi itu, sehabis salat subuh, dia mendapat kiriman pesan dari ibunya di kampung, 

"Nak, apapun usahamu,  jangan lupa untuk membaktikan diri kepada sesama manusia."

Boro-boro berbakti kepada manusia, dia bahkan belum bisa memilih jalan seperti apa untuk mencapai ke sana. 

Dia juga bimbang akan keharusan memilih lainnya: pacarnya Nunu. Ini sudah tahun keempat dia menjalin hubungannya. Ya, seperti halnya hubungan seumuran cicilan motor itu, kepastian kep…

Andi Fadlan Irwan, Kau Tidak Sendiri

Gambar
Minggu subuh itu, saya dikagetkan oleh banyak pesan masuk di salah satu grup Whatsapp. Isinya sebuah berita rekan saya yang mengalami persekusi setelah ikut berpartisipasi dalam twitwar bersama akun Twitter Tifatul Sembiring dan Taufiq Ismail sebelumnya membahas terkait topik 65.
Ada sebuah agama yang pernah membantai ratusan juta manusia selama ribuan tahun di slrh dunia: islam.
Ciutan itu langsung dibalas dengan rentetan makian, juga beberapa diantaranya adalah ancaman. Tak luput juga beberapa media yang tanpa klarifikasi langsung saja memuat berita bermodal  satu dua informasi. Pun para netter juga turut meliar. Informasi pribadinya di Facebook dan media sosial lainnya menjadi modal untuk persekusi. Sekilas memang pendapat ini bisa dibilang ngawur, namun seberkas Ingatan masuk saat pertemuan pertama saya, sekitar tahun 2009. *** Kali itu saya bertemu dengannya di media sosial, Facebook. Andi Fadlan Irwan, namanya memang sudah santer terdengar di wilayah kampus kami. Namun saya me…

Akhirnya Kutemukan Pop Sebenarnya (Review Album Senandung Senandika--Maliq & The Essential)

Gambar
Nama Artis : Maliq & The Essential Judul Album : Senandung Senandika Rilisan : Organic Records Tahun : 2017
Senang sekali bisa mengulas karya dari Maliq & The Essential. Apalagi mendengarnya. Bagi saya band ini adalah salah satu band pop terbaik yang dimiliki Indonesia hari ini. 
Salah satunya adalah keberanian mereka untuk mendobrak zona nyaman mereka. Di sini lah menariknya definisi pop dalam kamus mereka. 
Bisa saja mereka tetap bertahan dengan pakem yang sudah membuat mereka melejit—seperti layaknya kebanyakan band mainstream lainnya—dengan formulasi “Untitled”, “Terdiam”, ataupun “Dia”.
Pilihan menukik itu membuat saya terkagum. Album Setapak Sriwendari dan utamanya Musik Pop. Dari komposisi musik dan lirik, mereka berusaha untuk membawa kita menelusuri era keemasan musik progressive rock dan Rumah Pengangsaan di tahun 70-an. Hal itu dilengkapi dengan album Senandung Senandika ini.
Kalau mengacu pada KBBI, senandika berarti wacana seorang tokoh dalam karya susastra dengan…