Postingan

Menampilkan postingan dari Desember, 2015

Masih Belum Percaya

Gambar
Saya masih membasuh muka beberapa kali ini tidak percaya saat memandang sebuah buku di susunan rak saya. Saya masih belum percaya akan buku merah itu terpajang dan menuliskan nama "Dhihram Tenrisau". Saya masih belum dapat percaya bahwa saya menerbitkan sebuah buku.

Teringat akan pesan singkat senior dari Tarakan, Ade Saktiawan yang mengutip seorang penulis besar tersohor Puthut EA :

" Saya tak bisa bayangkan manusia hidup tanpa karya "

Setidaknya saya sudah bisa menjadi manusia dalam konteks Puthut EA itu.

Masih teringat banyak kenangan di dalam buku ini. Semua berawal dari suatu kontestasi politik yang saya ikuti. Kontestasi yang membutuhkan peran kecil seorang amatiran ini, memberi modal yang cukup untuk biaya produksi - dengan tambahan beberapa pasien cabut gigi - buku ini.

Dengan kontak jarak jauh lewat surat elektronik Makassar-Pekanbaru, Kepingan buku ini disusun.

Tak terlupa bagaimana itu kenangan dari penulisan hingga proses pembuatannya yang berkeja…

Memoar Natal

Gambar
Ketika masih SD dulu, saya memiliki kebahagiaan ketika perayaan natal mencapai puncaknya, maklum saya bersekolah di mana mayoritas katolik dan protestan berada. Di dalamnya ada kesenangan mendapatkan peran di dalam drama natal, kelahiran Yesus - sekalipun hanya alang-alang atau domba - yang dipentaskan sekolah, kesenangan menikmati pemasangan aksesoris berkerlip pohon natal di rumah kawan, hingga menikmati paduan suara dan hadiah-hadiahnya.

Ada kesenangan yang tidak terkira ketika melihat rekan dan guru beserta keluarganya turut berbahagia di dalam momen ini. Senang rasanya membagikan ucapan dan cerita di momennya.

Selain bersekolah bersama mayoritas Kristen, saya juga hidup di lingkungan yang di mana Kristen dan Muslim bahu membahu di dalam kehidupan. Saya ingat betapa banyak bantuan para tetangga kepada saya dan keluarga, ketika keluarga saya mendapatkan kesulitan, dari hal yang remeh temeh hingga permasalahan ekonomi yang melanda keluarga saya. Dan monen natal adalah semangat keb…

Mencari Mawar yang Tak Bernama

Gambar
Judul buku : The Name of The Rose
Penulis : Umberto Eco
Penerjemah : Nin Bakdi Soemanto
Penerbit : Bentang Pustaka

Buku ini bercerita mengenai memoar seorang biarawan muda Adso yang saat itu bersama William biarawan dari Baskerville untuk melakukan penyelidikan atas kasus pembunuhan yang terjadi di dalam biara Benediktan di Utara Italia.

Berjalinlah sebuah cerita sepanjang tujuh hari di dalam biara tersebut, di mana semua tradisi dan habitus berdoa - yang juga sebagai patokan waktu - diselami.

Adso dan William kemudian berhadapan dengan Labirin Perpustakaan yang dikenal sebagai Aedificium juga kematian yang semakin membajiri biara tersebut, hingga penghakiman akan para orang - orang yang dianggap Paus sebagai Pembid'ah.

Hingga kemudian seluruh biara ini hancur lebur di dalam kobaran api bersama segala kisah gelap yang ada di dalamnya.

Pertarungan Makna

Sebenanrnya saya terlalu malu untuk mereview novel ini berhubung resensi yang sangat apik oleh St. Sunardi tapi tak ada salahn…

Euforia Akhir Perjalanan ?

Gambar
Perjalanan ibaratnya menyalakan korek api dalam gelap, Terasa singkat, mewarnai, kadang tangan yang harus pula merasakan panasnya api. Namun ketika korek api itu mati, kita terjebak di dalam kegelapan dan seketika itupun kita merindukan korek api yang menerangi.

Bagi anak yang berkuliah di fakultas kedokteran gigi, perjalanan itu ibaratnya mengarungi jeram akademik yang melelahkan dan menguras energi - perjalanan akademik paling cepat sekitar 5 tahun - dan diujung pencapaiannya mereka akan merasakan kemenangan dan euforia dengan toga dan gelar (drg.) baru di depan namanya.

Perjalanan itu melelahkan banyak dari mereka kemudian terlena dengan kenyamanan sebagai konsekuensi gelar itu. Banyak dari mereka kemudian mengabdikan diri di pelosok dengan gaji dan tunjangan berlapis. Terjebak dalam zona nyaman 3 x 4 -- merujuk pada ruang praktek dokter gigi pada umumnya - dengan fulus yang mengalir di setiap jam kerjanya. Menikah dengan anak pejabat daerah, beranak, lalu menjadi PNS dan (mungkin…

Kartu Kunci Kamar 612

Gambar
Perkenalkanlah kartu yang di bawah adalah kunci kamar 612 di salah satu hotel terkenal di kota Pekanbaru. kartu itu sangatlah berperan dalam sebuah momen bernama Kongres HMI.

Anda mungkin pernah mendengar tentang Kongres HMI di Pekanbaru. Kegiatan terbesar di tubuh HMI yang melibatkan para kadernya se-Indonesia. Bayangkan ribuan orang dari seluruh Indonesia datang ke kota Pekanbaru untuk menjadi saksi perhelatan agenda ini, yang terpenting adalah pemilihan ketua Umum PB HMI yang baru.

Kalau anda pernah membaca atau menonton di media mengenai kericuhan selama kegiatan tersebut, kartu itulah yang kemudian berperan di dalamnya. Saya terbilang beruntung dapat mengikuti proses belakang layar dimulai saat mendapatkan tiket pesawat ke Jakarta lalu ke Pekanbaru. Itupun karena kebetulan hubungan pribadi dan pernah punya pengalaman akan penulisan media. Tugas saya simpel : "make a good news, hit all bad news".

Dengan bermodalkan laptop butut melangkahlah saya di bumi lancang kuning pa…