Postingan

Menampilkan postingan dari Desember, 2016

Sang Putri dan Nunu

Gambar
Di singgasana Ayahnya ia berdiri menyaksikan kerajaannya ditaklukkan oleh singa-singa dari Hijaz. Dia hanya memandang bau kobaran api yang melewati jendelanya. Dua orang berdiri di hadapannya, salah seorang berambut keperakan, dan satunya berwajah rupawan nan karismatik. Tak ada yang lebih menyakitkan dari meratapi dari sang penakluk yang kini berdiri di hadapan yang telah takluk.

Apalah dia, hanya seorang perempuan dari bangsa yang kini apinya telah meredup, seorang perempuan yang saudaran-saudaranya telah melarikan diri ke Timur. Hanya tertunduk, dan termenung. Dia mendengar suara saling berebut menentukan nasibnya, Pemimpin berambut perak itu hendak menjualnya. Air matanya hampir meledak bersama dengan merelakan takdir terburuknya di ujung pedang-pedang mereka. Hingga sebuah suara menenangkannya,

"Putri Raja tidak boleh diperjualbelikan," sahut pemilik suara itu.

Sang Putri tak mampu mengangkat kepalanya, memikirkan sandiwara dan segala kemungkinan yang mungkin dapat dit…

Hal Yang Paling Ngangenin di Pare

Gambar
Selama empat bulan saya tasbihkan hidup di Kampung Bahasa Pare. Terlalu singkat memang, tapi terlalu lama untuk menyimpan banyak memori. Ada beberapa hal yang otak ini paling banyak menyisakan ruang untuk dikenang dan paling berkesan selama di Pare yaitu:

1. Pernen tape
Bentuk dan bungkusannya mengingatkan saya pada chocolate bar yang biasa didapatkan di mini market, tapi tidak dengan rasanya. Ada rasa gula merah dicampur dengan tape singkong. Cemilan ini murah harganya dan biasa saya konsumsi.


2. Nasi pecel
Ada dua ihwal  mengapa makanan ini menjadi penting. Pertama, harganya yang sangat miring. Kedua, kuliner ini sangat mudah didapatkan sepanjang jalan sekitar kampung ini. "Makanan proletariat dari kampung sosialis-komunis," kata seorang rekan.


3. Restoran Dapur Jawa
Kalau menyebut kata "restoran", pikiran kita akan mengacu pada tempat yang lux dan harga yang wah. Eits, jangan tertipu oleh kata "restoran" yang tersematkan di depan namanya. Berikuran kecil dan…

Kisah Para Pejuang Islam 212

Gambar
Bela Islam menjadi terma baru yang menguat di akhir tahun 2016 ini. Seluruh antusias masyarakat khususnya yang beragama Islam terserap di momen "411" dan "212".

Hal ini dirasakan oleh saya, ketika menempuh perjalanan Jakarta-Kediri (4/12) menggunakan kereta api Majapahit. Sore itu sehabis hujan di penghujung senja Jakarta, utamanya di gerbong tempat saya duduk.

Bisa dibilang hampir di gerbong ini mayoritasnya adalah para mujahid 212 yang berencana pulang ke asal--umumnya dari Malang. Kunci utama mengidintefikasi mereka cukup jelas: bercelana cungkring, berjenggot, dan memakai atribut-atribut berembel-embelkan Islam entah itu dari pin plastik di dada mereka atau jaket.

Aksi tersebut masih menyisakan kegemilangan dari mereka, seumpama penaklukan Konstantinopel oleh Fetih atau perebutan Al Quds oleh Salahuddin Ayyubi. Beberapa dari mereka memamerkan foto hasil jepretan di momen tersebut. Salah satu dari mereka memutar lagu anthem "Aksi Bela Islam" dari gawa…