Ketika Mitos dan Realitas Melebur (Review Buku Parabel Cervantes dan Don Quixote)



Judul Buku.         : Parabel Cervantes dan Don Quixote 
Penulis                 : Jorge Luis Borges
Penerjemah         : Lutfi Mardiansyah
Penerbit                : Gambang Buku Budaya
Jumlah halaman  : 131 
ISBN.                      : 978-602-6776-17-4


Membaca sebuah karya sastra, tak lengkap rasanya jika tidak membaca Jorge Luis Borges. Dia adalah seorang penulis dan pengarang asal Argentina.  Borges ditinggikan karena kontribusinya yang besar terhadap perkembangan sastra Amerika Latin dan genre realisme magis. 

Untuk melihat gaya kepenulisan dan alam pikirannya yang rada njelimet, Kumpulan cerita Parabel Cervantes dan Don Quixote ini sangat layak dibaca,  terlebih untuk yang ingin memahami sastra realisme magis.

Buku ini adalah terjemahan beberapa karya dari dua antologinya, Collected Fictions of Jorge Luis Borges dan The Book of Imaginary Beings

Realisme magis dijelaskan sebagai salah satu genre sastra yang di mana fakta dan fantasi ataupun mitos bercampur dalam sebuah cerita yang realis. Genre ini kadang juga memasukkan gaya dekonstruksi sebuah sejarah dengan rekaan sang pengarang.  

Selain itu Borges menyajikan alur non-linier, mengedepankan cerita yang membutuhkan keseriusan dalam membaca, hal ini dikarenakan struktur cerpen di sini tidak seperti cerpen yang kebanyakan. Pun di buku ini penulis ini seakan ingin memamerkan bacaan dan pengetahuannya kepada pembaca.

Lebih dari itu, cerpen-cerpennya bukanlah menekankan pada plot atau tokoh seperti cerpen pada umumnya melainkan gagasan yang diutamakan. Sehingga, cerpen Borges lebih terlihat sebagai esai dibandingkan sebuah cerita. 

Kesemua itu dibuka dengan judul awal buku ini, Zahir. Zahir yang didefinisikan sebagai keping uang di awal,  menjelajahi waktu dan semua cakrawala pengetahuan seorang Borges. Setiap kalimat di cerita ini rasa-rasanya mengandung ilmu pengetahuan. Jelas di sini seorang Jorge Luis Borges adalah seorang pelahap buku-buku dan seorang pustakawan.

Cerita ini melintasi ruang dan waktu, dari karya fiksi hingga kenyataan. Di sini Kisah 1001 Malam berbaur dengan penyair Tennyson. Perjalanan pencarian koin ini sepertinya perjalanan "zahir" yang dalam pengertian beberapa sufi adalah perjalanan fisik untuk mencapai kebersatuan wujud dengan Ilahi, wahdah al wujd.

Sekiranya itu yang tertulis di akhir cerita ini, "Barangkali sambil tak henti-hentinya memikirkan Zahir, aku akan sanggup menempuh perjalanan itu, barangkali di balik koin itu ada Tuhan."

Cerpen kedua adalah semacam dekonstruksi pada perjalanan hidup Averoes. Di cerita berjudul Pencarian Averroes ini, Borges menggambarkan kisah imajinatif bagaimana filsuf ini berusaha memahami salah satu mahakarya Aristoteles, Poetics.
Pencarian itu melibatkan pula sebuah adegan di mana pemikir Islam ini berdialog dengan Faraj, seorang pengkhatam Al-Qur'an dan Abu al Hasan, seorang pengelana.

Di akhir cerita, kemudian terkuak bahwa Averos dalam cerita ini dikisahkan oleh Borges (sebagai sudut pandang pertama). Dalam hal ini dia menjadi Ibnu Rusyd/Averos untuk menuliskannya,lagi, lagi,  dan lagi, hingga jumlah yang tidak terbatas.

Tema ketidakterbatasan,  muncul lagi di Aleph. Di situ pengarang yang disebut berpengaruh di abad ke-20 itu mengajak kita memasuki alam penciptaan karya sastra. Disitu Aleph atau alif dalam bahasa arab muncul dalam gudang seorang penyair. Disini ketidakterbatasan itu muncul,  mungkin dalam bentuk perjalanan spiritual si narator. 

Salah satu yang menarik adalah pada Yang Lain. Kisah yang ditranslasikan dari The Other ini menceritakan perjumpaan Borges muda dan tua di Sungai Charles, Boston. Bayangkan ketika Anda dipertemukan oleh diri Anda yang berusia dua puluh tahunan dan tujuh puluh tahunan. Dialog itu mungkin bisa jadi semacam biografi dan pengenalan siapa Jorge Luis Borges di dua periodik. 

Di buku ini, dapat pula kita temukan karya-karya sangat pendek dari penulis kelahiran Buenos Aires ini. Salah satunya adalah Parabel Cervantes dan Don Quixote. Di sini dikisahkan pertemuan Don Quixote yang berada di ujung usia dengan penulisnya, Miguel de Cervantes.

Kesukaan Borges pada hewan-hewan yang dimitoskan turut dihadirkan Beberapa cerpen di buku ini menceritakan Simurgh, Uroboros, Burak, dan lain sebagainya. Turut pula dekonstruksi akan kisah Kain dan Habel atau Qabil dan Habil. Sampai di sini saya heran,  mengapa Borges tidak dikenai pasal penistaan agama. 

Untuk membaca dan menyerap keseluruhan cerita bukanlah perkara gampang. Diperlukan pembacaan kembali serta penelusuran khazanah yang disebutkan dalam tiap cerita. Saya sampai perlu membaca buku ini dua kali disertai penelusuran Google juga diskusi. Untuk pembaca yang kurang sabar, sangatlah tidak direkomendasikan untuk membaca kumpulan cerpen ini. Pun kalau Anda adalah pembaca buku filsafat dan kritik sastra, saya yakin Anda akan menggemari buku ini. 

Salah satu cara untuk memahami karya ini mungkin sama seperti kutipan di kisah Kitab Pasir,  

"Untuk mengatakan bahwa kisah ini benar-benar nyata,  berarti mulai sekarang aku harus bersepakat dengan kaidah dari setiap kisah fantasi, aku sendiri,  bagaimanapun,  adalah sosok nyata."





Komentar

Postingan populer dari blog ini

Maaf Cak Nas (Obituari drg. Nasman Nuralim Ph.D)

Sesudah Empat November, Apa Lagi?

Afi Jangan Berhenti!