Afi Jangan Berhenti!



Apapun yang ditabur itulah yang akan dipanen.  Kira-kira itulah yang terjadi pada seorang anak SMA di Banyuwangi,  Afi Nihaya Faradisa. 

Tulisan-tulisannya bernas dan kritis. Melampaui cara berpikir anak seusianya. Salah satunya adalah saya,  yang saat itu masih berpikir untuk mendengar musik dibandingkan membaca buku Sigmund Freud. Lebih memilih menyusun rencana senang-senang di gigs dibanding harus menyusun kata-kata bermakna dan menggugah untuk dibagikan. 

Saya mengikuti perkembangannya di lini masa. Sering kali teman-teman di Facebook membagikan tulisannya. Salah satu tulisannya yang terbaik dan mendapat apresiasi khalayak banyak berjudul "Warisan".

Ya,  anak Blambangan itu cerdas dan kritis. Afi seorang intelektual muda dalam artian sebenarnya. Dia menampar para tua-tua seperti saya ini. 

Seperti tunas yang diberi paclobutrazol--semacam zat yang mempercepat pembuahan--secepat itulah Afi kemudian tumbuh dan berbuah. Tulisannya senantiasa menjadi viral dan mendapat sorotan publik. 

Kompas sempat mengulas dirinya sebagai penebar pesan perdamaian. Ya, tulisan Afi seperti cahaya menelisik rimba pertarungan identitas. 

Beberapa kali dia diundang dalam sesi wawancara stasiun televisi. Argumentatif dan artikulatif.

Tapi sial seribu sial. Afi diduga terganjal kasus plagiarisme. Bola liar ini yang seringkali mengganjal para intelektual. Afi yang sedang menuai buah-buah yang ranum hasil postingannya kini siap-siap dibuang. 

Tulisan dari Pringadi Abdi Surya berjudul "Drama Dugaan Plagiarisme Afi Nihaya Faradisa", menghajar jagat maya. Disitu tertulis bahwa tulisan dara di detik ini menyalin status Mita Handayani berjudul,  "Agama Kasih".






Mirisnya,  Afi pernah menulis dalam statusnya yang berjudul,  "Copas Tulisan Orang" 15 Maret silam.  Di situ dia mengkritik bagaimana perilaku "copas" atau plagiarisme. Dan kini dia termakan akan ucapannya sendiri. 

Apa yang terjadi dengan remaja tanah gandrung ini?  Beberapa rekanan menyatakan bahwa Afi belum siap dengan popularitas yang dia dapatkan. Dia masih darah setampuk pinang akan tekanan selebritasnya.

Menghasilkan karya tulis memang bukanlah perkara mudah. Apalagi di tengah tiadanya orisinalitas di dunia. Reno Nismara dalam tulisannya di Rolling Stone Indonesia edisi Mei 2017 berjudul, "Cangkul Musik yang Dalam" mengakui itu. 

Untuk itu dia kemudian mengatakan berkarya--dalam hal ini tulisan--adalah urusan pencurian karya-karya yang lebih duluan. Juga beresonansi dan merangsang imajinasi. Itu disebut autentik. Memang menjadi autentik itu lebih sulit lagi. 

Mungkin setelah karya "Warisan" yang menurut saya autentik itu, Afi kehilangan ide brilian lainnya untuk ditulis dengan jejarinya.
Jalan pintas dengan "copas" jadi pilihan. Saya heran dengan redaksi media detik yang tidak jeli dalam menyunting. Sama seperti Afi yang setiba-tiba didera kepayahan dalam melakukan paraphrasing

Lebih dari itu,  salah satu hal yang paling saya apresiasi bagaimana Mita Handayani yang tidak ingin membesar-besarkan persoalan. Mungkin Mita memiliki gambaran dan visi tersendiri dari siswi SMA ini. 

Bercermin pada kasus yang sama, saya ingat bagaimana Anggito Abimayu, seorang dosen UGM yang mundur setelah terseret kasus seperti ini. Apakah Afi harus melakukan hal yang sama,  mundur untuk menulis (lagi)  di media sosial teranyar ini? 

Tidak. Afi masih muda, dia adalah tunas yang dipaksa berbuah. Sekalipun buahnya membusuk,  dia masih memiliki masa untuk berbuah lagi.

Pun kalau memang itu terbukti plagiat, masih banyak jalan untuk memperbaiki itu. Selanjutnya,  Afi adalah harapan di tengah intrik politik identitas yang berkecamuk. Dia setitik terang untuk harapan Indonesia berpolar setelah Pilkada DKI. Afi adalah penyadar para netizen tua yang kekanak-kanakan di media sosial.  


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Maaf Cak Nas (Obituari drg. Nasman Nuralim Ph.D)

Sesudah Empat November, Apa Lagi?