Postingan

Maaf Cak Nas (Obituari drg. Nasman Nuralim Ph.D)

Gambar
Makassar, 25 Juli 2012 Pagi ini seperti biasa, namun emosi dan amarah kian membumbung. Di sebuah meja tongkrongan anak koass di sebuah ruangan bertulis "Bagian Bedah Mulut" saya menunggu dia yang selama enam bulan ini memperlakulan saya bak pedulum mengayun tanpa kejelasan titik perhentiannya. Dia memang terkenal seperti itu terhadap anak bimbingannya. Banyak anak koass dan mahasiswa yang melenguh akan kesialannya dan menapaki depresi tingkat akhir ketika diasuh oleh dosen ini. drg. Nasman Nuralim, Ph.D namanya tertera di sampul buku kepaniteraan saya. Di depan pandanganku, rekanan sejawat koass telah menyelesaikan ujian bagiannya. Mereka bersorak dan bahagia ketika nilai ditandatangani oleh dosen pembimbingnya. Sedangkan saya hanya bisa menatap iri. Saya bahkan belum menyelesaikan pembacaan refarat--salah satu prasyarat mengikuti ujian--dikarenakan Cak Nas--panggilan saya untuk Dokter Nasman yang tidak jelas apa maunya. Kliping print-out lembar refarat dan rencana ...

Titik Nadir Kemanusiaan di Hiroshima

Gambar
Titik Nadir Kemanusiaan di Hiroshima (Review buku John Hersey, Hiroshima ) Judul Buku :  Hiroshima: Ketika Bom Dijatuhkan Penulis        : John Hersey Penerjemah : Gatot Triwira  Penerbit      : Komunitas Bambu ISBN          : 979-3731-29-X Tragedi ledakan atom di Hiroshima memang sudah berlalu lebih 50 tahun juga dengan perang dunia kedua yang menjadi muhasabnya. Ledakan itu lebih dari sekedar proses dijatuhkannya bom namun lebih dari itu, peristiwa itu adalah sebuah krisis kemanusiaan. Peristiwa ini menyajikan data: kehilangan nyawa dan dampak radiasi ribuan orang. John Hersey, seorang jurnalis, penulis, dan pemenang penghargaan Pulitzer, mencoba mengungkapkan hal itu. Buku Hiroshima sebenarnya adalah sebuah jurnalisme sastrawi yang ditulis dalam edisi The New Yorker,  31 Agustus 1946.  Laporan sangat mendalam ini mencoba menggali ingatan kesaksian para korban tragedi ...

Kisah Para Pejuang Islam 212

Gambar
Bela Islam menjadi terma baru yang menguat di akhir tahun 2016 ini. Seluruh antusias masyarakat khususnya yang beragama Islam terserap di momen "411" dan "212". Hal ini dirasakan oleh saya, ketika menempuh perjalanan Jakarta-Kediri (4/12) menggunakan kereta api Majapahit. Sore itu sehabis hujan di penghujung senja Jakarta, utamanya di gerbong tempat saya duduk. Bisa dibilang hampir di gerbong ini mayoritasnya adalah para mujahid 212 yang berencana pulang ke asal--umumnya dari Malang. Kunci utama mengidintefikasi mereka cukup jelas: bercelana cungkring, berjenggot, dan memakai atribut-atribut berembel-embelkan Islam entah itu dari pin plastik di dada mereka atau jaket. Aksi tersebut masih menyisakan kegemilangan dari mereka, seumpama penaklukan Konstantinopel oleh Fetih atau perebutan Al Quds oleh Salahuddin Ayyubi. Beberapa dari mereka memamerkan foto hasil jepretan di momen tersebut. Salah satu dari mereka memutar lagu anthem " Aksi Bela Islam" dari...

Suara Hingga Terang

Suara itu kuat, mampu menghempas karang dan kepercayaan yang lama dianut oleh manusia. Darinya datang nada dan rasa. Suara, suara, suara, menerobos gelap ketika mata tertutup, menuntun jalan hingga terang menyambut. Dalam suatu tekan dia masuk ke gendang telinga, menyambung ke pusat saraf, endofrin mengalir deras, serasa surga di depan mata. Kini aku percaya dapat hidup, setelah lama aku terkutuk. Suara itu datang pada frekuensi lemah, sayu, tapi ada semangat dan energi di dalamnya. Suara itu menerobos hingga ke dada. Hangat. Melelehkan darah yang sudah beku. Melambatkan denyut, dan saya terhanyut.  Dia menghardik tapi indah, dia kejam tapi berbunga. Suara, suara, suara. Di mana suara itu kini? gelap sudah datang, tuntunan menghilang. Mana, mana getaranmu lagi? Biarkan aku tersesat, tak perlu kau tuntun. Hanya suara adalah bahagia, memberi harapan walau tak nyata dan kasih yang tak berbalas.

Keriting Itu Keren

Gambar
Era SMA dan SMP saya menyimpan memori diskriminasi untuk pemilik rambut keiiting. Ya, era itu di mana rambut belah tengah dibilang keren dan rambut jabrik dengan Gatsby jel itu hukumnya  fardu ain saat ke sekolah. Apa  mi daya saya tumbuh dengan rambut keriting--kadang saya asosiasikan dengan rambut ikal. Rambut jenis ini ketika dibiarkan sedikit saja melebat, akan nampak meliar dan otomatis gunting guru BK akan membabatnya hingga cacat. Dibiarkan pendek pi,  itu jadi pilihan. Hal ini saya alami juga saat masuk fakultas yang mengedepankan estetika pasien dan citra kerapian.  Bisa dibilang beberapa bulan ini daya mendapat kebebasan untuk meliarkan rambut, hal yang jarang saya dapat kesempatannya selain pada saat menunggu pengunguman kelulusan SPMB. Tapi bayang-bayang guru BK dan aturan tidak tertulis institusi profesi seperti membayangi, hal itu ada di beberapa teman saya sesama awardee-- untung saja mereka baik hati.   Ah, saya jengah dengan imbauan dan arahan d...

Gusdurian Menolak Tua

Gambar
"Usia boleh menua tapi tidak dengan semangat!" Kira-kira begitulah kalimat penuh energi yang meluncur dari mulut Aan Anshori, seorang aktivis kemanusiaan cum Koordinator Gusdurian Jawa Timur. Berambut kemerahan dan bercelana pendek dan juga turut hadir seorang feminis (ibukota), Nadya di situ. Di sekeliling kami duduk para lelaki bersarung dan berpeci, di kafe tempat kami kongkow-kongkow, bacaan Surat Al-Kahfi terlantun dan melatari diskusi. Ya, kami berada di salah satu kawasan santri terlawas se-Indonesia, Tebuireng, Jombang, Jawa Timur. Ba'da Magrib itu (17/11), Nadya dan Gus Aan (sapaan Aan Anshori) seakan menjadi sentrum serupa magnet yang menyerap partikel logam di sekitarnya. Terlebih ketika berbicara soal seksualitas dan kaum minoritas. Saya? Ya saya cuma menjadi pendengar yang baik mi saja.   Selain berbicara pergulatan dan pengalaman menangani kelompok-kelompok termarjinalkan dan minoritas, Gus Aan juga bercerita mengenai sebuah kartu, yang menjadikannya menyala...

Sesudah Empat November, Apa Lagi?

Gambar
Bisa dibilang saya cukup lelah melihat informasi yang berseliweran di media sosial saya seputaran hal ini. Ahok, Al-Maidah, hingga tetek bengeknya.  Puncak keriuhan itu terjadi pada hari ini. (4/11) Seperti yang mungkin anda semua lihat di media, bagaimana lautan manusia terjadi di ibukota, mengatasnamakan agama yang saya juga anut--sayangnya saya memilih tidak reaktif dalam hal ini. Demonstrasi telah bubar, massa telah pulang ke asal mereka, jalanan telah lenggang, lantas apa lagi? Pertanyaan itu yang sering saya tanyakan pada teman-teman kuliah yang mengklaim diri mereka aktivis. Sebagai orang yang dibesarkan di daerah dan kampus 'merah membara' juga sempat juga merasakan beberapa momentum 'membara' sudah saya rasakan. Demo menjadi prioritas utama bagi teman-teman tersebut, beberapa teman bahkan mengabdikan hidupnya di jalan dan api pembakaran ban bekas. Dan salah satu perkara yang kadang tidak dapat terjelaskan adalah, "Apa yang kalian lakukan setelah demonstras...