Kecewa oleh Sejawat
Melanjutkan dari tulisan saya yang sebelumnya mengenai es krim , akhirnya saya memutuskan untuk memeriksakan gigi saya di klinik terdekat tempat inap. Iseng-iseng saya pun mencoba menjajaki kota Kediri. Dengan jarak tempuh sekitar 30 menitan, sampailah saya di salah satu rumah sakit yang menyajikan pelayanan perawatan gigi. Sebenarnya dengan status saya sebagai rekan sejawat, pelayanan prima dapat diberikan. Apalagi dalam salah satu sumpah dokter terdapat pasal, "Saya akan memperlakukan teman sejawat saya sebagaimana saya sendiri ingin diperlakukan." Tapi sumpah memang sumpah, hanya seremonial sewaktu dan hilang digulung waktu. Dari awal memang tiada niat saya untuk mengumbar identitas saya sebagai rekanan sejawat, namun perlakuan dokter tersebut bisa dibilang inhumanity. Bayangkan saja, saya didudukkan di dental unit, dengan maskernya yang terpasang dan handscoon (kaos tangan) berlapis, seakan penderita penyakit menular berbahaya yang siap mentransmisikan ke tubuhnya. ...