Saya dan Rekan Hizbut Tahrir
Tahun 2009 lalu, saya naik mobil panther menuju Makassar. Malam itu saya meninggalkan posko KKN Bantaeng menuju kota untuk membereskan keperluan administrasi perkuliahan semester depan. Di atas mobil itu saya bertemu dengan Aray (sebut saja dia seperti itu). Aray adalah rekan SMP dan SMA saya. Tidak ada yang terlalu mencolok dengannya semasa bangku sekolah. Lain halnya ketika masuk bangku kuliah. Dia bermetamorfosis menjadi aktivis Hizbut Tahrir. Saya terkejut, mengingat saya mengenal betul rekam jejaknya selama di bangku sekolah jauh dari sesuatu yang bersifat relijius, apalagi yang sifatnya mengakar. Beberapa kali saya melihat dia di mushallah fakultas mengumandangkan takbir beserta agitasi anti Barat dan kapitalisme. Tak luput pula beberapa kali mata saya menangkap dia menjadi koordinator lapangan aksi dengan kepala dibalut panji perang yang menjadi logo organisasinya. Di salah satu persinggahan mobil sewaan, saya bersamanya duduk selonjoran meluruskan kaki di warung. Sem...