Prioritas



Dia hanya menguap saat seorang pasien menghardiknya dengan rentetan makian. Seorang anak terlihat merengek tersedu-sedu sehabis giginya dicabut. Darah menetes dari gusinya, dan kapas terlihat menahan rembesan itu. Tangannya sibuk menari dengan pena di atas kertas resep, telinganya serasa pekak menahan kebisingan ibu dan anak ini.

“Dokter bagaimana sih? Kerja yang benar dong. Sontoloyo amat cabut gigi!” maki pasien tersebut.

Si ibu dan anak dengan gegas melangkah keluar ruang praktek sebesar 4 X 5 meter itu. Bak! Dia membanting pintu. Anwar santai, pasien yang mengantri terkaget.

Sebenarnya tangannya sudah terasa keram, matanya memerah, kepalanya terasa berat. Hari ini sudah 12 pasien dia tangani, dan masih tersisa beberapa lagi antriannya, hal itu sudah biasa ia alami sehari-hari.

Makian dan amarah sudah biasa dia terima, apalagi orang tua pasien yang merasa anaknya diperlakukan secara kejam di atas kursi gigi. Wajarlah, di daerah pinggiran memang para pasien belum terbiasa dengan penanganan dokter, apalagi dengan jumlah antrian yang banyak; Dokter Anwar haruslah efisien dalam mengatur waktunya, kecepatan adalah solusinya.

Dia mengudarkan nafas. Pandangannya terasa nanar menahan beban di benak. Di samping tempat duduknya terdapat jendela, di balik tirai jendela itu dapat dilihat antrian pasien. Di hadapannya wastafel penuh alat bernoda darah dan liur, bau bacin meyeruak. 

Di tengah ruangan itu berdiri kursi eksekusi, beberapa orang takut melihatnya; beberapa lainnya lagi keranjingan duduk di kursi itu.

Namun bukan itu yang membuatnya jeri. Ingatannya menyusuri hardik Nunu, beberapa jam lalu. Dia merengkuh tangannya di wastafel. Diguyurkan air di wajahnya. Di hadapan cermin, tatapannya bersirobok dengan bayangannya.

“Prioritas,” ucapnya. Sesuatu menerabas relung terdalamnya.

Aku sudah sakit gigi berbulan-bulan tapi kamu lebih memperhatikan pasienmu, aku ini istrimu loh!

Suara itu membawanya pada sebuah ingatan. Dilihatnya sofa tamu di salah satu ruangan di kontrakannya, di situ Anwar sedang duduk menyesap kopi dengan jejarinya yang bermain di tuts laptop. Di belakangnya berdiri Nunu. Perempuan ini menelan ludahnya, seakan menahan kantung matanya yang tak kuat menahan cucuran.

“Aku sakit gigi, Mas.”

“Iya nanti saya rawat gigimu, tapi nanti ya, saya lagi ada ker...”

“Nanti...nanti...sudah berapa bulan saya menanti kata ‘nanti’, Mas,” potong Nunu. Air matanya akhirnya pecah.

 “Nu...”

“Ah! Sampai kapan saya harus menahan seperti ini! Pernah kamu prioritaskan saya?”
Anwar terdiam, ketikannya berhenti. Sedu sedan Nunu memecah diam itu. Dia berusaha merengkuh istrinya itu. Dengan cepat, perempuan itu menolak. Anwar kelimpungan dan terduduk kembali. Wajahnya datar menatap Nunu. Disesapi lagi kopinya, seakan untuk mendinginkan kepalanya.

Bukan pertama kalinya Nunu menyergah Anwar. Nunu memang kerap kali meminta kemanjaan dari suaminya itu. Beberapa diantaranya bisa dibilang sepele. Mulai dari meminta antar ke pasar, minta dipeluk saat tidur, ditemani ke toilet, dan masih banyak lainnya. Namun Anwar kerap kali dingin, apalagi dengan seabrek kesibukannya. 

“Sudah berapa kali kamu mengacuhkan saya. Kemarin katanya banyak pasien. Bulan lalu ada proyek, hari ini ada kerjaan. Sampai kapan Anwar?”

Nunu menahan rembesan kesedihan yang menjadi-jadi itu dengan telapak tangannya.
“Saya sakit War. Saya butuh orang yang memprioritaskan saya dan keluarga. Bukan orang yang sibuk degan dunianya.”

Nunu bergegas masuk ke dalam kamar. Terdengar samar bebunyian. Anwar semakin kelimpungan. Diurut kepalanya, bibirnya pucat dan kelu. Beberapa menit berlalu, Nunu keluar kamar menggotong sebuah dos.

“Cari perempuan lain yang toleran dengan sikapmu!”

Anwar menatap boks rokok tersebut.

“Sudah kukemasi semua buku dan pakaianmu di dos itu. Pergi!”

Anwar tampak berusaha menenangkan Nunu, namun isak itu semakin menggema. Di dorongnya suaminya itu sekuat tenaga, Anwar terhempas dan jatuh tersandung kaki meja. Nunu menjadi histeris dan seketika kejang-kejang. Bola mata cokelatnya menghilang. Liur menetes dari mulutnya yang menganga.

Anwar panik dan menggendong Nunu. Itulah awal perpisahannya dengan seseorang yang sangat dicintainya. Luka itu semakin membusuk, menelantarkannya di sebuah padang gurun nan getir. Dan kiranya semburat air keran di wajahnya tak mampu menghapus kemarau di dalam benak.

Kembali dia ke kursinya, di situ bertumpuk kartu pasien yang mungkin sakit giginya tak sebanding dengan apa yang dirasakannya. Dipanggilnya seorang lagi. Pasien itu masuk, duduk berhadapan dengannya ditengarai sebuah meja.

“Sakit apa, Bu?” tanyanya tanpa basa-basi dan perkenalan. Si Ibu kemudian bercuap-cuap.

“Gigi saya sudah lama sakit, Dok. Bapaknya sudah janji antar ke sini, tapi mah tidak jadi-jadi. Sibuk, Dok,” ungkap Ibu tersebut.

Ucapan itu adalah reka ingatannya. Ingatan yang membaur dalam luka yang menganga. Terngiang lagi, lagi, lagi, dan lagi. Gelap. 

---
Di hadapan seorang psikiater. Dengan lirih dia mengungkapkan semuanya, di sebelahnya sebuah kaca menengahi ruangan lainnya. Tampak seseorang duduk di atas dipan dengan tatapan kosong ke depan. Sesekali dia melihat itu, dan perasaannya seakan teriris.

“Memberikan beban pada pasangan, sama saja memberi bom. Dia kemarin pingsan di...”

“Ya, saya sudah tahu Dok, terima kasih,” potongnya

“Saya mengerti Anda mengalami trauma masa lalu dan sakit, tapi bukan berarti dia berhak seperti ini kan?”

 “Prioritas..prioritas...prioritas..prioritas..” Ucapan itu berulang kali berepetisi dalam lisan lelaki dalam ruang akuarium tersebut. Beberapa saat kemudian rapalan itu diiringi sebuah adegan menelanjangi diri. Pertama bajunya, selanjutnya celananya. Dia memainkan zakarnya, dan urin kecoklatannya berkejaran keluar dari ujung testisnya.

Dia hanya terdiam, tak tahu harus berkata apa. Matanya bengkak serasa telah sesenggukan. Dilihatnya lagi seseorang berbaju putih masuk ke ruangan akuarium tersebut.

Melihat orang-orang berpakaian putih, rapalannya semakin cepat dan keras. Semakin kencang juga dia memainkan zakarnya. Seketika seorang memeluk lelaki tersebut, yang lainnya lagi mengacungkan jarum suntik. Jarum itu terarah ke lengannya.

“Prioritas!!Prioritas!!” Lelaki itu berteriak histeris. Dia menolak para perawat yang berada di sekelilingnya. Semakin kuat dia menolak, semakin kencang kekangan mereka. Sesekali, lelaki itu menggigit para pengepungnya, seakan tidak ada jalan lain untuk melawan. Namun jumlah memang seringkali adalah pemenang. Akhirnya dia tak dapat berontak kuat. Seluruh persendiannya terkunci dalam banyak genggaman kuat.

Suntik itu kemudian menancap, beberapa mililiter masuk ke pembuluh darahnya. Lambat laun lelaki itu melemah dan akhirnya tenang, liur dan ingusnya terbit dan meleleh.

“Bu Nunu, saya harap Anda memahami apa inti dari prioritas itu,” ujar dokter tersebut.

Dokter itu meninggalkan Nunu. Anwar, dia tergeletak di dipannya. Perempuan itu hanya meratap, sisa-sisa harapannya di masa lalu. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Maaf Cak Nas (Obituari drg. Nasman Nuralim Ph.D)

Afi Jangan Berhenti!

Lagu Yang Paling Enak Didengarkan Di Atas Motor